22 Agt 2011

When You're Gone


Hold onto love that is what I do now that I've found you.
And from above everything's stinking, they're not around you.

And in the night, I could be helpless,

I could be lonely, sleeping without you.

And in the day, everything's complex,

There's nothing simple, when I'm not around you.

But I'll miss you when you're gone, that is what I do. Hey, baby!

And it's going to carry on, that is what I do. Hey, baby...

Hold onto my hands, I feel I'm sinking, sinking without you.

And to my mind, everything's stinking, stinking without you.

And in the night, I could be helpless,

I could be lonely, sleeping without you.

And in the day, everything's complex,

There's nothing simple, when I'm not around you.

But I'll miss you when you're gone, that is what I do. Hey, baby!

And it's going to carry on, that is what I do. hey, baby...

- The Cranberries -

17 Agt 2011

Merdeka Dan Bebas, Mungkinkah?

“Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada penindas, mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.” – Nelson Mandela

Coba baca sekali lagi apa yang diucapkan oleh Nelson Mandela diatas. Kalau perlu rasakan saat membacanya hingga terhujam ke hulu hati. Hanya orang-orang hebat yang mengerti makna-makna yang hebat. Itu pemahaman kemerdekaan yang luar biasa dan mulia yang sangat perlu direnungkan oleh seluruh bangsa Indonesia sekarang yang – mungkin – hatinya penuh benci dengki, marah dan berangasan!

Ya, tidak perlu memuji kalimat itu setinggi langit memang. Kata-kata mutiara bisa dibuat seratus biji dalam beberapa menit saja (mungkin?), tetapi bukan itu yang kita perlukan. Kita memerlukan tindakan, Indonesia di usia 66 sudah inflasi kata-kata mutiara.

“Apa sejatinya makna kemerdekaan,”
“Apa?”
“Bebas.”
“Memang dari dulu begitu kan? Masak baru tahu?”
“Dan apa sejatinya makna kebebasan!”
“Apa?”
“Melupakan!”

Ya! Kelihatannya tidak mungkin, bahkan sepele. Tetapi nyatanya Nelson Mandela sudah membuktikan itu. Tak mungkin orang besar dari Afrika Selatan itu, mampu bertahan disekap puluhan tahun di penjara, padahal usianya sudah uzur, sehingga ketika dibebaskan, dia masih sehat jasmani dan rohani sehingga mampu memimpin sebagai presiden pertama Afrika Selatan!

“Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada penindas, mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.”

Orang besar memang selalu memiliki pikiran yang juga harus besar. Tapi tidak mesti orang besar saja. Bisa kita balik. Milikilah pikiran yang besar, orang kecil pun akan menjadi orang besar. Mudahkah? Yang jelas butuh proses dan kesabaran.

“Mungkinkah orang kecil memiliki pikiran besar dan jadi orang besar?”
“Nah, kalo itu mah 100% sangat mungkin.”

Berusahalah, gapai kebebasan dan raih kemerdekaan. Tapi jangan sampai kebablasan juga. Pandulah dengan ilmu dan adab. Hidup ini adalah tentang pilihan, dan apa saja yang dipilih menunjukan tentang diri si pemilih.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushshilat:46).

Catatan: Tulisan sederhana ini adalah potongan cerpen yang berjudul “MERDEKA” karya Putu Wijaya di rubrik kolom Majalah arti Oktober 2010 dengan sedikit tambahan dan gubahan tulisan dari saya. Tulisan ini pula tidak bisa dikatakan mewakili pemahaman saya tentang makna Kemerdekaan dan Kebebasan. Maklum, masih harus banyak belajar... 


Cimahi, 17 Agustus 2011 – 17 Ramadhan 1432 H
Aan Sopiyan