7 Jun 2011

Selalu Terdengar Baru

Hidup dengan sahabat menjadikan hidupku lebih berwarna. Tidak hanya sekadar warna-warna keceriaan, tapi juga warni-warni kesalahan menjadikannya dalam kesedihan. Hidupku dengan sahabatku adalah warna-warni.***

Seorang sahabatku, sekitar beberapa hari yang lalu bercerita tentang kehidupannya yang tak pernah aku sangka-sangka sangat memiriskan hati. Siapa yang mengira dalam keceriaan tertanam kesedihan yang begitu mendalam? Diri seorang pejuang, apa memang harus seperti itu? Mempertunjukkan kebahagiaan pada orang lain dan menanam kesedihan dalam diri sendiri.

Lantas, cerita kehidupannya pun terus mengalir. Ada tutur haru, sendu, malu, dan ragu. Kisahnya cukup klasik, terkait masalah keluarga. Tapi kenapa hal yang klasik ada di jaman modern seperti ini? Dan nyatanya ada, bahkan mungkin tidak sedikit. Itu masalahnya. Tak habis pikir diriku menelaah ceritanya.

Aku pikir hanya sinetron saja yang menayangkan kisah ironi seperti itu. Tapi Tuhan pun menunjukkannya padaku. Dan itu terjadi pada temanku, sebagai salah satu pelakunya.***

Ada sebuah kesadaran lagi. Kadang masalah yang kita hadapi tidaklah terlalu berat bila kita bandingkan dengan masalah orang lain. Hanya kita jarang melihat itu.

Kita harus bisa menatap tinggi hidup kita tapi tetap harus berpijak pada bumi. Di dunia ini selalu ada sesuatu yang lebih dari kita. Lebih sulit, lebih rumit, lebih lemah atau lebih besar, lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih.. lebih.. Ingat saja peribahasa "di atas langit masih ada langit" dan bisa jadi di bawah bumi masih ada ruang-ruang kosong. Mungkin itu kelihatan seperti nasehat lama, tapi sesungguhnya akan selalu terdengar baru jika kita sadar di mana posisi kita.***

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. - Sapardi Djoko Damono, 1973


Catatan lalu:
Cimahi, 12 Oktober 2009
Aan Sopiyan

2 Jun 2011

Plastic Flower

Plastic Flower by Mr-Aan
Plastic Flower, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Cantik tapi hanya tampak dari luar. Kamu hanya mencoba menyerupai, tapi faktanya kamu sangatlah jauh berbeda dengan ciptaan-Nya.

Ya, hanya tampak dari luar saja, tidak lebih. Hanya terlihat sama ketika hati dan mata kita terlalu jauh dan enggan untuk mendekat pada kenyataan.


Bosankah kamu dengan ini?

31 Mei 2011

Lilin Kecilku, Catatan Penghujung Mei

Lilin Kecilku by Mr-Aan
Lilin Kecilku, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Baru saja malam tampak lebih gelap, tidak seperti biasanya. Maklum saja, baru sempat merasakan kembali mati listrik di rumah. Sebenarnya tidak hanya dirumahku saja, tapi saat tengok ke luar-rumah pun semua nampak gelap. Gelap gulita. Hanya sekilas cahaya lilin saja yang menerangi setiap rumah-rumah. Udara dingin, angin semilir yang sempat menerpa tubuh menambah kelengkapan malam ini. Tapi kok rasanya sangat indah ya ... jadi ada perasaan yang mendalam. Entah rasa apa itu ...

*** 
Hidup kita selalu penuh dengan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita berencana Allah pula yang menentukan. Sebagian dari kita kadang berkata, "Ini tak adil ... !". Ah, masa iya hidup ini tak adil? atau justru kita sendirilah yang seringkali membuat ketimpangan di dunia ini? Padahal sebenarnya, selalu bahwa Allah punya cara sendiri yang lebih baik dalam menentukan.

Dalam kegelapan, setitik cahaya tampak lebih bisa berarti. Sedangkan untuk menjadi gelap tidak memerlukan sekecil apa pun cahaya. Sama seperti hati ini. Hati yang gelap, kosong, dan dingin barangkali hanya tinggal memerlukan sedikit cahaya saja. Harus tetap ada sebuah pengharapan. Pengharapan agar bisa berubah, agar bisa menemukan jawaban-jawaban penting dalam hidup.

Kalau keluarga kamu menyebalkan, kamu gagal di sekolah atau kuliah, di kantor atau ditempat lainnya juga, dan satu-satunya hubungan baik yang kita punyai adalah sama kucingmu (dan belakangan ini dia juga mengecewakanmu lagi). Peliharalah pengharapanmu!

Pokoknya jangan sampai kamu berkecil hati deh! Sependek apa pun, sekecil apa pun, dan sesulit apa pun, nyalakanlah lilinnya. Biarkan lilin kecil itu tetap menjadi pengharapanmu. Apa? Tidak ada lilin?! Ya, pokoknya carilah cahayamu.

Selamat malam, besok bulan baru lagi lho! (*)

Lilin Kecilku (Photo: @nsopiy, 31 Mei 11) 
Cahaya Lilin (Photo: @nsopiy, 31 Mei 11)

29 Mei 2011

Trip to Pantai Ujung Genteng

Kalau kamu mau meluaskan hatimu, maka bermain dan bertafakurlah tentang alam. Lihatlah betapa luasnya alam ciptaan Tuhan dan hatimu pun akan seluas lautan, bahkan lebih dari itu. Setelah dua pekan yang lalu bertafakur dengan naik kaki gunung Burangrang (lihat disini), Alhamdulillah, kemarin (Sabtu, 28 Mei 2011) berkesempatan kembali untuk tafakur alam. Bukan ke atas gunung, tapi ke kawasan pantai. Tempatnya di daerah paling selatan Sukabumi, Jawa Barat. Tepatnya di Pantai Ujung Genteng, kabupaten Sukabumi.

Pantai Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi. (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Perjalanan ke sana tidaklah mudah. Tidak hanya jarak yang jauh (dari Bandung) hingga menghabiskan waktu sekitar + 7 jam perjalanan, tapi juga kondisi jalan yang tidaklah mulus akan membuat perjalan semakin menuntut kita untuk ekstra-sabar. Namun demikian, dengan menikmati proses perjalanannya dan saat kita telah tiba di tempat tujuan, di sana akan kita temukan keindahan dan keajaiban yang tak akan terlupakan begitu saja.

Ujung Genteng #1 (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Ujung Genteng #2 (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Ujung Genteng #3 (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Bening Pantai Ujung Genteng (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Bebatuan yang ada di Pantai Ujung Genteng (Photo: @nsopiy, 28/05/11)
Ini sama saja seperti kehidupan. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang indah dan berharga, maka akan selalu ada proses yang harus dilalui dan seringkali itu tak selalu mudah.

Have a nice weekend, selamat liburan! (*)

27 Mei 2011

Embun Pagi

Embun by Mr-Aan
Embun, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Biarkan aku berdiam diri
berpasrah menepi..
meratapi menghindari peri-peri.

Pagi lagi
tanpa sendumu
aku bebas!
namun mati tetap ada di hati
tapi pergilah dirimu jauh
biarkan
pelangi mewarnai
warna-warna hati

aku mau..
suka cita.

aku ingin..
bahagia.

aku butuh..
CINTA.

di Pagi INI !