Tampilkan postingan dengan label Menyampir catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menyampir catatan. Tampilkan semua postingan

1 Nov 2014

Berkecil Hati

"The flower doesn't dream of the bee. It blossoms and the bee comes." - Mark Nepo, The Book of Awakening

Apa itu kecil hati? Kecil hati yang saya maksud dalam tulisan ini ialah merupakan sebuah kiasan atau kata yang bukan dalam arti sebenarnya. Jadi, bukan tentang salah satu organ dalam tubuh (organ hati atau jantung) yang kita miliki tetapi dengan bentuknya yang kecil. Kecil hati biasa mengiaskan tentang sebuah perasaan tersinggung atau sedikit marah atau perasaan kecewa. Bisa juga tentang kondisi dimana hilangnya keberanian atau takut.

6 Okt 2014

Doamu Tak Boleh Selesai

Sesekali, karena barangkali kamu sangat jarang, berterus-teranglah tentang dirimu sendiri pada Tuhan. Berceritalah pada-Nya tentang betapa beban di pundakmu tak akan mampu kamu pikul bila tanpa kekuatan dari-Nya.

Berceritalah tentang cita-cita yang belum kamu capai, padahal upaya dan kerja keras telah kamu lakukan dari siang dan malam hingga kamu pun lelah.

1 Okt 2014

Permisif

Janji pada diri sendiri mudah untuk dibuat dan mudah diingkari juga, mudah pula dibentuk-bentuk; elastis. Berbeda dengan janji yang dibuat untuk orang lain, yang kadang kita takut hanya untuk sekedar berucap janji dan lebih memilih kalimat mudah-mudahan agar aman. Untuk mengingkarinya saja kita pasti takut.

Beberapa manusia adalah makhluk yang permisif terhadap dirinya sendiri. Manusia seperti ini tidak mudah mencintai dirinya, karena bagaimana bisa ia mencintai. Sementara ketika berjanji saja sering diingkari, bahkan ketika berucap saja sering membohongi diri.

Balikpapan, 1 Oktober 2014

: permisif
per·mi·sif /pĂ©rmisif/ a bersifat terbuka (serba membolehkan; suka mengizinkan)

27 Sep 2014

Sales Pulpen

Aku tahu rizkiku tak akan diambil orang lain, karena itulah aku tenang. Aku tahu amalku tak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku, karena itulah aku malu bila Dia melihatku sedang dalam maksiat. Aku tahu kematian itu menungguku, karena itulah aku selalu sibuk menambah bekal untuk hari pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. - Hasan Al Bashri.

Baru saja ada seorang Sales datang ke kantor dan kebetulan saya yang piket di kantor hari ini.

Sales tersebut datang dengan ramah, penuh senyuman, berpenampilan rapi. Menawarkan sesuatu? Tentu saja. Namanya juga sales. Lantas, apa yang ia tawarkan? Pulpen. Iya, pulpen. Harganya Rp2,000,- per pieces. Murah kan, ya?

23 Sep 2014

Takdir

Ketika kamu sudah jatuh bangun, mengalami pasang surut, melalui sesuatu yang sangat sulit, lalu bagaimana kamu mengetahui: apakah itu pertanda kamu tak bertakdir atasnya, atau ia adalah ujian perjuangan?

...

20 Agu 2014

Jejak Langkah

Saya Aan Sopiyan. Lahir pada 15 Mei 1988 di Cimahi. Cimahi adalah kota kecil yang berada di tengah-tengah kawasan Bandung Raya, Jawa Barat. Satu kota yang begitu amat saya cintai, setelah itu barulah kota Bandung yang ada di hati. Lahir, tumbuh dan berkembang di sana membuat saya bangga menjadi bagian dari masyarakat kota Cimahi dan Bandung; dan di sanalah kampung halaman saya.

9 Okt 2013

Arti Lembaga Ini (RZ)

Saya awali tulisan saya dengan kisah pengalaman pribadi sekitar pertengahan tahun 2010 lalu. Percakapan pendek nan sederhana saja. Ketika baru beberapa bulan saja bergabung dengan Rumah Zakat. Suatu malam di Toko Buku Gramedia, Jalan Merdeka, Bandung. Mendekatlah oleh seorang pria dewasa saat itu. Mengajak berbincang dan mulai membuka pembicaraan yang hingga hari ini tidak pernah saya lupakan.

“Mas, kerja dimana?” 
“Di Rumah Zakat, pak.”
“Rumah Sakit mana mas?”
“Di Rumah Zakat, pak.”
“Oh ya ya ya...”
“...”

Hahaha.

18 Jun 2013

Gelora Jiwa


Gelora Jiwa
Terinspirasi dari tulisannya Bpk. Hermawan Sah.

Pernah nonton serial film The Return of the Condor Heroes? Kamu yang seumuran atau lebih tua dari saya pasti tahu. Salah satu film yang sukses merebut hati saya kala itu. Film tersebut diartikan kedalam bahasa Indonesia dalam judul Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali.

Film tersebut diangkat dari sebuah novel silat karya Jin Yong, merupakan bagian kedua dari Trilogi Rajawali. Di Indonesia kisah ini juga dikenal dengan judul Sin Tiauw Hiap Lu (dialek Hokkian). Cerita silat ini lebih populer dengan judul di atas karena diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul The Return of the Condor Heroes, terjemahan harfiah dari versi asli sebenarnya lebih tepat berjudul Pasangan Pendekar Rajawali Sakti.

26 Mei 2013

Kisah Dalam Angkot

Pernah suatu kali naik angkutan kota (angkot) sepulang sekolah dahulu. Selepas maghrib dari sekolah menuju rumah. Tidak ada yang spesial saat itu selain ada salah seorang bapak penumpang yang sudah tua duduk di posisi belakang supir. Saya sendiri duduk tepat di samping pintu masuk angkot. Kendaraan yang cukup lowong saat itu, seingat saya sekitar 4 sampai 5 orang penumpang saja.

Selama perjalanan naik turun penumpang secara bergantian. Penumpang baru masuk, tidak lama setelah itu penumpang lain turun. Saya sendiri masih sekitar 2 kilometer lagi untuk tiba di tujuan. Entah, justru yang menarik selama perjalanan adalah sosok si bapak tua yang duduk hampir di depan saya. Tiba-tiba si bapak tua membuka pembicaraan dengan supir angkot.

28 Feb 2013

Manis dan Pahit


Kalo takdir udah nyampe, semua akan indah pada waktunya. Dan, betapa menyenangkannya jika apa yang kita inginkan sesuai dengan takdir-Nya.

Manusia diciptakan untuk saling melengkapi, selalu ada kata “kamu” yang menjadi bagian hidup setiap manusia. Dan saya selalu suka tentang apa yang terkait dengan kamu.

17 Okt 2012

Kehilangan

Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan. Jika kamu merasa rencanaNya belum baik, maka sesungguhnya rencana Tuhan itu belum berakhir.

Setiap kejadian selalu menghadirkan banyak persepsi. Tergantung dari bagaimana cara kita memahami dan memandang kejadian tersebut. Bisa hitam atau putih. Baik atau buruk. Senang atau susah. Lapang atau sempit. Dan lain sebagainya. Bagi manusia, setiap kejadian adalah relatif; bergantung pada cara ia memandang kejadian tersebut.

9 Okt 2012

Patah Hati



Patah hati? Sebentar, saya ingin cari dulu dalam kamus kehidupan saya. Wah, gak nemu tuh! Ini seriusan. Saya tidak menemukannya. Iya, itu setidaknya saat beberapa belasan tahun tahun kebelakang.

Saat saya masih di dunia anak. Di saat dunia begitu mengasyikkan terisi oleh aktifitas yang namanya bermain. Nangis (mungkin) sering, tapi bukan karena hati yang hancur berkeping-keping seperti kebanyakan orang-orang dewasa dalam film roman yang menyuguhkan patah hati. Eh bukan film doank kok, dalam realitanya kehidupan juga banyak yang patah hati.

7 Sep 2012

Bahagia dan Sedih

“Biarlah mereka tersenyum bahagia ketika kita menangis di waktu kelahiran kita.”

Ceria itu perasaan bahagia. Bahagia itu ceria. Intinya itu sih. Hehe.. Ada perasaan yang terluapkan dalam ekspresi kita dengan kesenangan yang tak terbahasakan. Entah dari mimik wajah, gerakan tubuh, gaya bicara, atau pun dari cara makan kita dan lain sebagainya. Segala sesuatu terasa lebih mudah dan ringan untuk dijalani. Tapi ada juga sih yang bahagia meski ia sedang menghadapi masalah yang terasa berat. Dan yang soal seperti itu jangan tanya saya seperti apa orang yang bahagia meski kita lihat sebenarnya ia menderita.

23 Okt 2011

Yang Tersembunyi

Bunga di Tepian Jalanan Kota
c. Aan Sopiyan

Bahwa segala sesuatu itu bisa saja berubah. Waktu mengubah segalanya kecuali perubahan itu sendiri. Juga dengan perasaan-perasaan kita yang sifatnya bisa sementara. Kita tak pernah menangis sepanjang waktu atau sebaliknya tertawa setiap saat. Selalu bergantian. Atau bahkan beriringan. Tangisan pudar oleh tawa. Tawa hilang oleh tangisan-tangisan. Kita tak selalu tahu dari mana dan ke mana perginya semua perasaan sesaat itu.

Di balik itu semua, ada yang tersembunyi untuk kita pelajari demi meraih yang terbaik dalam perubahan. Sesuatu itu tanpa sadar kita cari-cari selama ini. Sesuatu itu adalah secercah ketenangan hati dalam segala situasi.

-- Bread for friends

31 Jul 2011

Tak lebih dari Seorang Hamba

Aku Bersujud by Mr-Aan
Aku Bersujud, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Campakkan rasa cinta kepada kedudukan, kehormatan dan popularitas. Beramallah dengan keyakinan, keteguhan, dan keberanian, dengan tawakal kepada Allah dalam menunaikannya.

"Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia "(QS. Al-Baqarah [2] : 143)

Hasan Al-Banna
Beberapa hari kebelakang, perenungan saya sangat dihiasi oleh perenungan akan eksistensi atau keberadaan dari diri ini. Kehidupan atau rutinitas sehari-hari yang mengolah pikiran dan perasaan saya membentuk satu sosok yang kini orang-orang sering memanggil saya: Aan Sopiyan. Tapi, bagi saya sendiri, “Siapa saya?”

Dua puluh tiga (23) tahun lebih hidup di dunia jika dalam perhitungan kalender Masehi (Syamsiah), tepatnya lahir tanggal 15 Mei tahun 1988. Atau hampir 24 tahun jika menghitung dari kalender Hijriah (Qomariah). Ibuku sering bercerita bahwa dahulu saya lahir di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri. Setelah dihitung-hitung tepatnya lahir tanggal 29 Ramadhan 1408 dalam kalender Hijriah.

Selalu tertegun jika ada pertanyaan yang terlontar tentang “siapa saya?” dari diri sendiri atau bahkan dari orang lain saat bertanya “siapa kamu?”. Ya, siapa sih diri ini?

Lantas, kalau saya pikir-pikir lagi. Ternyata, hidup memang selalu terkait dengan pencarian jawaban tentang diri. Tentang bagaimana kita bisa mengenali diri sendiri. Untuk apa? Untuk mengenali yang lainnya. Untuk mengenali manusia-manusia, lingkungan, alam semesta, bahkan yang lebih dari itu semua: Tuhannya.

“Barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya”.

Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW (meski masih banyak perdebatan). Ada ilustrasi yang menarik dari sebuah buku, Doa Sang Katak, karya Anthony De Mello:

Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang.

“Tok, tok, tok,” pintu diketuk.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?”
“Watung, Tuan.”
“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Eh, saya anak lurah, Tuan.” Wajahnya mulai plonga-plongo.
“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya seorang insinyur, Tuan.”
“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
“Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.”
“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”

Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo. Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.

Nggak mudah, ya? Nyata-nyatanya kita nggak paham siapa diri kita sendiri. Kebiasaan kita hanya mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, keluarga, teman, pekerjaan, jabatan, kekayaan, jenis kelamin, bentuk tubuh, dsb. Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Pikir lagi deh apakah ‘aku’ sama dengan ‘tubuhku’?

Mungkin saja. Tapi bisakah kita mengabaikan perkataan agung, “Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”?

Saya teringat dengan tulisannya Ir. Bambang Pranggono, MBA dalam artikelnya “Melihat Allah di Sinai”. Jadi, dalam tulisan tersebut mengutip seorang Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, yang memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia.

Ia menguraikan makna Ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw., lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah Ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.

Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadits tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya.

Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh Tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.

Hikmahnya, bagi saya sendiri, jawaban paling esensi dari pertanyaan “Siapa saya?” atau “Siapa kamu?” adalah “Saya hanya seorang Hamba Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Tidak lebih..”


Cimahi, 31 Juli 2011 (30 Sya'ban 1432 H)
Marhaban Ya Ramadhan


Aan Sopiyan

19 Jul 2011

Duduk Sejenak

Hidup memang kadang-kadang terasa begitu cepat. Sayangnya juga terkadang begitu sangat melelahkan. Kita penat, jenuh, suntuk, bosan, malas, ah... dan masih banyak lagi hal yang begitu memuakkan! Bagaimana tidak, idealisme tentang diri ini yang sering digadang-gadangkan kenyataanya tak sesuai dengan realitas yang ada. Hidup menawarkan banyak pilihan. Namun tak semua pilihan itu selaras dengan siapa diri kita, dengan apa yang kita inginkan.

19 Jun 2011

I Love Ahad Day

Hari ahad ini, tanggal 19 Juni 2011 kuawali aktifitas pagi dengan memiliki tujuan untuk datang ke Ta’lim Majelis Percikan Iman (MPI) di Masjid Al Murosalah, Learning Center Telkom, Geger Kalong, Bandung. Mengendarai sepeda motor aku ditemani seorang kawan, kang Iik, maka berangkatlah ketempat Jihad[1] itu. Motor yang kukemudikan melaju cukup santai saja. Singkat cerita tibalah di tempat tujuan. Tapi kemudian ada keanehan ...

“Kang Aan, Sepi!” Iik berbicara padaku dibelakang, tempat boncengan motor.
“Sigana MPI pindah tempat, Ik!”[2]

Terdengar sayup-sayup ada supir angkot berteriak pada ibu-ibu yang kemungkinan sama herannya dengan kami karena tak ada kegiatan MPI di sini, “UNISBA, UNISBA!”

“Oh, hari ini pindah ke UNISBA, Ik, MPI-nya” Segera kuambil kesimpulan begitu.

Tanpa banyak cingcong lanjutlah perjalananku dan kang Iik ke UNISBA atau Universitas Islam Bandung di jalan Tamansari No. 1 (dan aku baru tahu kalau UNISBA ternyata alamatnya itu No. 1 loh). Karena sedikit lupa-lupa inget jalan ke sana sempat juga kita salah tempat. Malah kita sampai di Masjid Salman ITB (Institut Teknologi Bandung). Soalnya sama-sama di jalan Tamansari walau sebenarnya UNISBA dan ITB berjauhan. Setelah ngeh dan sedikit bersusah payah mengambil jalan memutar kita sampai juga di UNISBA.

“Oh, ternyata lagi ada Tabligh Akbar, Ik!”, kataku setelah melihat spanduk yang melintang setelah masuk ke area kampus. Tema Tabligh Akbar ini The Power of Green, Media & Komunikasi Lingkungan. Penyelenggaranya FIKOM UNISBA dan Percikan Iman. Pembicaranya tak lain dan tak bukan adalah Ustadz Dr. H. Aam Amirudin, M.Si.

Tabligh Akbar Fikom UNISBA & Percikan Iman (19/06/11)
Langsung aja deh aku dan Iik masuk ke jamaah yang sudah berdesakan untuk mengikuti kajian MPI yang judulnya berganti jadi Tabligh Akbar ini. Pengantar acara dibuka oleh salah seorang perwakilah Staf Ahli lingkungan Pem-prov Jawa Barat dan Dekan UNISBA (yang kedua-duanya aku lupa namanya, hehe..) kemudian masuklah ke materi inti oleh Ustadz Aam.

Beberapa hal yang kucatat dan kuringkas dari ceramah Ustadz Aam sebagai berikut:

Diawali dengan QS. Al-Baqoroh: 30 berikut ...


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".


Dalam ayat tersebut tersirat, bahkan tersurat bahwa malaikat memprediksikan bumi itu akan dirusak oleh manusia. Bukan makhluk jin atau lainnya, melainkan hanya manusialah yang akan merusak bumi. Seperti fenomena global warming sekarang itu tak bisa dipungkiri bahwa manusialah yang paling bertanggungjawab atas fenomena tersebut.

Kita juga harus menyadari bahwa bahwa kita sebenarnya hidup di negara yang sangat kaya, Indonesia. Tapi fakta negara kita saat ini adalah Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang kerusakan lingkungannya sangat cepat. Terutama pembalakan liar pada hutan-hutan di Indonesia, juga ternyata kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan masih rendah di masyarakat kita. Buang sampah sembarangan adalah salah satu contoh bahwa sebagian masyarakat Indonesia belum terlalu peduli akan lingkungan.

Kemudian dilanjutkan kepada QS. Al A’raf: 55-56 berikut ...


Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.


Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil dari ayat-ayat Al Qur’an diatas:

  1. Mustajabnya doa kita ada kaitannya dengan bagaimana sikap kita memperlakukan alam;
  • Bahwa doa yang kita sampaikan kepada Allah hendaklah kita ungkapkan dengan rendah hati, dengan suara yang lembut.
  • Saat kita mendzolimi lingkungan maka sebenarnya kita pun secara tidak langsung sedang mendzolimi orang lain, terutama orang lain yang tinggal disekitar lingkungan tersebut. Maka jika doa kita belum terkabul, barangkali salah satu penyebabnya adalah karena kita seringkali dzolim pada lingkungan maka secara tidak langsung kita juga sedang mendzolimi orang lain. Lantas, mungkinkah Allah mengabulkan doa-doa kita?
  1. Bumi ini rusak karena tidak dikomunikasikan dengan baik kepada ummat.
  • Islam mengajarkan tentang komunikasi tertinggi seorang manusia, yakni komunikasi spiritual dalam sebuah doa. Dalam doa inilah manusia bisa berkomunikasi dengan sebebas-bebasnya kepada Sang Pencipta. Selain itu, komunikasi dengan Sang Pencipta – Allah SWT – adalah komunikasi yang tidak mungkin ada salah persepsi dalam proses komunikasinya. Berbeda dengan komunikasi antar manusia yang seringkali banyak sekali kemungkinan salah persepsi.
  • Manusia adalah makhluk yang harus senantiasa diberi peringatan. Dalam QS. Al Ghasiyah: 21 ... Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Bahasan lainnya adalah tentang Komunikasi ...

  1. Qowlan Sadida (Perkataan yang benar). QS. Al-Ahzab: 70 ... Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.
    • Harus mengikuti kaidah ilmu;
    • Harus jujur, tidak ada kebohongan;
    • Bara berkomunikasi (penyampaiannya) harus benar.
  2. Qowlan Baligho (Perkataan yang berbekas pada jiwa atau bisa menyentuh hati). QS. Annisa: 63 ... Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.
  3. Qowlan Layyina (Perkataan yang santun atau lemah lembut). QS. Thaha: 44 ... maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.
  4. Qowlan Karima (Perkataan yang mulia). QS.Al Isra: 23 ... Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
  5. Qowlan Ma’rufa (Perkataan yang baik). QS. Annisa: 5 ... Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
Ya, itulah gambaran singkat yang kutangkap dari ceramah ustadz Aam. Kalau kucatat dan kusampaikan semua apa yang dibahas pagi tadi, mungkin posting-an ini semakin panjang lagi. Tapi semoga itu cukup mewakili atas apa yang telah dibahasan dan disampaikan tadi.

Balik lagi keperjalananku dan kang Iik. Setelah dari UNISBA kang Iik ada keperluan harus ke BRC (Bekam Ruqyah Center). Ada sesuatu yang harus dibeli katanya. Jadi kita putar arah 180o ke Geger Kalong lagi. Bukan ke Learning Center Telkom, tapi ke KPAD Geger Kalong, Bandung. Kita ke kawasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Ya, betul sekali, disana ada Pondok Pesantren yang didirikan KH. Abdullah Gymnastiar atau sering kita kenal dengan sebutan Aa’ Gym.

Menakjubkan sekali, setelah sekian lama tak berkunjung ke DT (Daarut Tauhid) ternyata disana masih nampak ramai dengan para santriwan dan santriwati. Suasana yang hangat, religius, dan selalu membuat semangat beramal kebaikan setiap kali aku berkunjung kesana. Jauh dari permberitaan media selama ini yang selalu bilang DT menjadi sepi.

Setelah shalat dzuhur disana tanpa diduga-duga malah ketemu kang Dia Rediana Putra a.k.a Qefy al-Ghifari. Dia habis photo-photo katanya dan mau langsung ke kost-an adiknya, Evita Jude. Aku dan Iik lanjut jalan ke BRC, tapi sebelumnya kita makan siang dulu. Kita makan tongseng siang tadi.

Menu Tongseng

Teh Tarik
Sudah kenyang, dan Iik pun sudah membeli barang yang dicari di BRC lantas sayang sekali kalau langsung pulang ke rumah. Kita lanjut perjalanan siang tadi ke salah satu tempat kesukaan di Bandung. Kita pergi ke Jalan Keutamaan Istri. Ini jalan namanya emang unik. Tapi selain itu, kenapa tempat itu adalah salah satu tempat kesukaanku adalah karena disana banyak dijual buku-buku, juga majalah-majalah. Buku-buku yang dijual memang kebanyakan buku bekas, tapi tak jarang ada buku baru juga. Harganya pun disana murah meriah. Paling murah Rp. 5.000,- hingga Rp. 30.000,- (setahuku tidak ada yang lebih mahal dari itu).

Jalan Kautamaan Istri, Bandung

Kang Iik
Setelah menimbang-nimbang, dan menjelajah tumpukan buku, ada satu buku yang langsung mendapat perhatianku saat pertama kali melihat. Ini bukunya ...

Cover Depan Novel Cinta Suci Zahrana

Cover Belakang Novel Cinta Suci Zahrana

Bagian dalam Novel Cinta Suci Zahrana
Aku beli Cuma Rp. 25.000,- (setelah terjadi tawar menawar yang sengit tentunya). Wah, senang deh dapat lagi satu buku karya kang Abik (Habiburrahman El Shirazy). Setelah baca Novel Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, dan Bumi Cinta, serta nonton film dalam Mihrab Cinta, kini siap melahap Novel barunya: Cinta Suci Zahrana.

Aku langsung pulang dengan kang Iik. Terus sekarang mau baca novelnya setelah kuposting tulisan ini. Terima kasih yang sudah mau baca hingga selesai, semoga ada manfaat dan pembelajarannya. Oh ya, jadi keingetan... tulisan ini kuanggap sebagai tulisan liburanku di bulan Juni ini. Jadi, tugas menulis kisah liburan sebagai salah satu Bloofer kunyatakan: complete.



1 Jihad = Ngaji hari Ahad (Selain makna sebenarnya)
2 Kayaknya MPI pindah tempat, Ik!

16 Jun 2011

Sedikit Efek Tentang Senyum

Dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang lain Dale Carnegie menuliskan sebuah kisah ringan dari Dr. Stephen K. Sproul, yang berprofesi sebagai dokter hewan, tentang satu harinya yang biasa. Ia berasal dari Raytown, Missouri. Pada suatu saat ruang tunggunya penuh dengan klien yang menunggu binatang kesayangan mereka di suntik. Tak seorang pun dari mereka yang berbicara dengan seorang lainnya, dan mungkin semuanya sedang berpikir tentang selusin hal yang lebih suka mereka kerjakan daripada “membuang waktu” duduk di kantor dokter itu.

Ada enam atau tujuh klien yang sedang menunggu tatkala seorang wanita muda masuk, bersama bayi Sembilan bulan dan seekor kucing. Kebetulan, wanita itu duduk di sebelah seorang pria setengah baya yang kesal dengan pelayanan yang mengharuskannya menunggu lama. Hal berikutnya yang dia tahu, bayi itu memandangnya dengan tersenyum lebar, senyum khas bayi. Apa yang dilakukan lelaki itu? Tentu saja, persis seperti yang biasa akan terjadi; dia membalas senyuman si bayi.

Segera saja dia jadi mengobrol dengan wanita itu tentang anaknya dan cucu lelaki itu, kemudian serta merta mereka yang berada di ruang tunggu itu ikut bergabung dengan mereka. Kebosanan dan ketegangan berubah menjadi satu pengalaman yang menyenangkan.

Satu senyuman yang tulus dan hangat? Ya, tentu saja. Hanya karena satu senyuman suasana bisa berubah dengan hangat. Tidak hanya sekedar fenomena kemanusiaan semata, tetapi memang menjadi kelebihan manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Menurut sebagian filosof, “senyum dan tawa, itulah manusia.”

“Orang yang tersenyum,” menurut professor James V. McConnell, “cenderung mampu mengatasi, mengajar, dan menjual dengan lebih efektif, dan membesarkan anak-anak yang lebih bahagia. Ada jauh lebih banyak informasi tentang senyuman daripada sebuah kerut di kening. Karena senyum itulah yang mendorong semangat, alat pengajaran yang jauh lebih efektif daripada hukuman.”

Senyuman dapat membawa manusia jauh dari kesulitan kehidupan nyata. Manusia membutuhkan rasa santai. Kondisi santai inilah yang sebenarnya menjadi dorongan untuk tersenyum, bahkan tertawa. “Kondisi terhibur sama dengan bermain yang mencangkup prisnsip kesenangan. Fungsi psikisnya adalah meringankan beban jiwa dan pikiran,” demikian Sigmund Freud menjelaskan.

Pengaruh dari senyuman memang luar biasa, bahkan tatkala senyuman itu tidak tampak di depan mata. Cobalah untuk tersenyum saat Anda berbicara melalui telepon. Senyum Anda akan “terlihat” dalam suara Anda. Ya, tersenyumlah! Karena Anda tak akan melarat dengan senyum, justru Anda akan memperkaya diri Anda dan orang yang menerimanya.

Bukankah Rasul pernah bersabda, “Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi dari Abu Dzarr, Subussalam). Senyum jadi amal saleh, tidak ubahnya sedekah. Dalam pandangan islam, senyum menjadi salah satu sarana pemupukan kasih sayang, untuk mengikat rasa kebersamaan menjadi ikatan persaudaraan antar sesama.

Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa manis muka atau murah seyum merupakan tafsiran dari keinginan untuk bersahabat. Memang ada juga orang yang tersenyum atau tertawa sendiri, tapi itu lain hal. Mungkin orang itu tidak waras? Tapi sebaiknya kita harus sepakat, senyum yang tulus memang pertanda seseorang sedang bahagia. Walau pun senyum atau tawanya berada dalam lingkup nggak jelas atau berada dalam situasi Jaka Sembung naik Ojek, Nggak nyambung Jek! (an’s / MiHeSo)

7 Jun 2011

Selalu Terdengar Baru

Hidup dengan sahabat menjadikan hidupku lebih berwarna. Tidak hanya sekadar warna-warna keceriaan, tapi juga warni-warni kesalahan menjadikannya dalam kesedihan. Hidupku dengan sahabatku adalah warna-warni.***

Seorang sahabatku, sekitar beberapa hari yang lalu bercerita tentang kehidupannya yang tak pernah aku sangka-sangka sangat memiriskan hati. Siapa yang mengira dalam keceriaan tertanam kesedihan yang begitu mendalam? Diri seorang pejuang, apa memang harus seperti itu? Mempertunjukkan kebahagiaan pada orang lain dan menanam kesedihan dalam diri sendiri.

Lantas, cerita kehidupannya pun terus mengalir. Ada tutur haru, sendu, malu, dan ragu. Kisahnya cukup klasik, terkait masalah keluarga. Tapi kenapa hal yang klasik ada di jaman modern seperti ini? Dan nyatanya ada, bahkan mungkin tidak sedikit. Itu masalahnya. Tak habis pikir diriku menelaah ceritanya.

Aku pikir hanya sinetron saja yang menayangkan kisah ironi seperti itu. Tapi Tuhan pun menunjukkannya padaku. Dan itu terjadi pada temanku, sebagai salah satu pelakunya.***

Ada sebuah kesadaran lagi. Kadang masalah yang kita hadapi tidaklah terlalu berat bila kita bandingkan dengan masalah orang lain. Hanya kita jarang melihat itu.

Kita harus bisa menatap tinggi hidup kita tapi tetap harus berpijak pada bumi. Di dunia ini selalu ada sesuatu yang lebih dari kita. Lebih sulit, lebih rumit, lebih lemah atau lebih besar, lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih.. lebih.. Ingat saja peribahasa "di atas langit masih ada langit" dan bisa jadi di bawah bumi masih ada ruang-ruang kosong. Mungkin itu kelihatan seperti nasehat lama, tapi sesungguhnya akan selalu terdengar baru jika kita sadar di mana posisi kita.***

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. - Sapardi Djoko Damono, 1973


Catatan lalu:
Cimahi, 12 Oktober 2009
Aan Sopiyan

7 Mei 2011

Curhat Pernikahan

“Akh, kalau ada akhwat yang saat ini ngajak nikah sama antum, antum siap?”

Termenung. Dan tak tahu harus jawab apa, “Hmm, gimana ya?”. Mungkin tergantung siapa dulu akhwatnya. Kalau cantik, solehah, mau menerima saya apa adanya: kenapa tidak? Begitu bisik dalam hati. Ah, saya merasa tidak tahu perasaan saya yang sesungguhnya kalau ditanya tentang pernikahan. Antara mau dan ragu. Antara siap dan penuh pertimbangan.

Ilustrasi Wanita Solehah, Aisha - Ayat-ayat Cinta

Lantas, saya jadi teringat oleh salah seorang wanita mualaf yang pernah muncul di layar kaca. Ia berprofesi sebagai model dan hadir dalam salah satu acaranya Mario Teguh di TVOne sekitar 2 tahun lalu saat lebaran (Tahun 2009). Seingatku namanya Davina. Saya searching di Google ternyata ketemu juga sekilas profile-nya, bisa di lihat di sini.

Davina Veronica (sumber: id.wikipedia.org)
Saat itu Mario Teguh minta kepada Davina bertanya apa saja pada dirinya. Kemudian setelah berpikir sejenak Davina bertanya, “Apakah seorang wanita harus menikah?”

Loh? Saya sedikit aneh mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut model cantik itu. Namun begitu, saya harus memaklumi bahwa bagaimanapun, mungkin, bagi Davina bila kita sudah bahagia dengan diri kita saat ini apakah lantas harus menikah juga?

Lagi pula, bagi saya sendiri saya sangat bersyukur telah dilahirkan langsung dalam kondisi muslim. Berbeda dengan Davina yang harus merasakan bagaimana mendalami kondisi spiritual hingga bisa memutuskan untuk menjadi mualaf. Tentu ada perasaan-perasaan yang belum pernah saya rasakan. Ini berkaitan dengan keyakinan dan yang namanya keyakinan, bagi saya, ini adalah hal paling penting dalam aspek-aspek kehidupan kita.

Lalu, apa kata Mario Teguh? Saya sendiri lupa-lupa ingat tentang apa yang dikatakan Mario Teguh. Ah, biar gak pusing saya searching lagi di Google deh. Dan ternyata ada juga yang posting tentang moment Mario Teguh dan Davina ini di sini. Ya, dengan tutur bahasanya yang baik Mario Teguh menjawab pertanyaan Davina itu seperti ini :

Mario Teguh (sumber: Google Gambar)
“Bayangkanlah Davina puluhan tahun yang akan datang, apakah Davina lebih memilih menjadi seorang nenek atau seseorang yang Nampak seperti nenek ? Keduanya sangat berbeda. Seorang nenek bisa kaya bisa miskin, tapi dia sedang duduk di rumahnya di hari lebaran menantikan cucu-cucunya datang, pinggangnya sudah sering encok dan dinginnya udara sudah menusuk tulang, tapi dia akan bahagia karena akan ada tangan- tangan muda anak atau cucunya yang akan mencium tangan si nenek dan menghangatkan hati si nenek. Tapi seseorang yang hanya Nampak seperti nenek akan duduk sendiri di hari lebaran, kesepian, tak ada seseorang untuk dinanti.” Lalu Davina yang Nampak sangat independent itu berkata “ Bagaimana kalau saya bisa memastikan bahwa saya tidak akan kesepian?” Well, dan Mario Teguh pun mencoba meyakinkan Davina bahwa menikah lebih baik daripada tidak menikah.

Saya pribadi sepakat dengan Mario Teguh bahwa yang menikah lebih baik daripada tidak menikah. Saya adalah seorang muslim yang terus berusaha menjadi seorang muslim yang baik sesuai tuntunan Allah SWT melalui Rasul-Nya. Dalam hadits pula dikatakan bahwa dengan menikah maka kita telah menggenapkan atau menyempurnakan agama.
“Jika seorang hamba menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian lainnya” (HR. Baihaqi dengan sanad hasan).

* Bersambung ya.. nanti lanjut lagi deh curhat saya tentang pernikahan. Insya Allah.. :D *

Cimahi, 07 Mei 2011
Di rumah orangtua tercinta.