21 Apr 2011

Ibu, Kartini, dan Kebangkitan Hakiki

-- Penulis : Aan Sopiyan --

Pikiran tentang peran ‘tradisional’ perempuan sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak hampir-hampir pupus dalam benak para kaum hawa. Padahal, menjadi ibu rumah tangga dan juga pengurus anak adalah peran yang paling membanggakan dalam sejarah ummat manusia. Mengapa? Karena salah satu yang luar biasa dari seorang perempuan adalah, ia diberikan kesempatan merasakan “penciptaan” dalam dirinya, melahirkan manusia, dan tulang punggung kemuliaan kehidupan. Dan, semua itu terangkum dalam satu profesi, dimana tak ada satu lelaki pun yang mampu menempati posisi tersebut, itulah IBU.

Umar bin Khattab pernah ditanya oleh seorang anak yang begitu berbakti pada ibunya, “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?”. Lalu Umar pun menjawab, “Tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu.” 

Saya sangat mafhum ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tidur lelap, dalam hatinya ia berkata: itu darahnya, itu ruhnya, bahkan itu adalah hidup dan matinya! Lantas, bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? 

Bayangkan ketika tabungan seorang anak yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak tabungannya?”. Mata rasanya haru ketika anak menjawab “Mau buat beli mushaf Al-Qur’an, bu!” atau “Buat bantu temen adek sekolah, bu!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli video game saja!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama.” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala anak-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Power Rangger!”. 

Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten untuk membentuk jiwa anak seperti itu. Tekad yang kuat dalam menjalani fungsi seorang ibu dan bersungguh-sungguh mengajarkan akhlak yang baik pada anaknya. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau pengasuh anak, kemudian membiarkan anak tumbuh begitu saja? 

*** 

Barangkali nilai-nilai emansipasi di Indonesia selalu tak bisa dilepaskan dari sosok R.A. Kartini. Door Duisternis tot Licht, Mr. J.H. Abendanon menerbitkan dan memberi judul buku terhadap kumpulan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Dan rupa-rupanya terlanjur membumi ditelinga kita yang diartikan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
 
Padahal arti secara harfiahnya “dari kegelapan menuju cahaya”. Sebagian dari kita mungkin tak asing mendengar kalimat itu. Kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Arab maka bunyinya Minadz-Dzulumati Ilan-Nur. Sama dengan apa yang tercantum dalam dalam Q.S. Al Baqoroh ayat 257. 

Jika kita membaca kisah Kartini nampak memang seperti kisah roman kemanusiaan. Pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi tertuang dalam surat-suratnya. Sebagian besar berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). 

Terlepas dari berbagai kontroversi yang meliputi Kartini, mari kita pandang bahwa Kartini pun adalah seorang wanita yang memiliki cita-cita tinggi untuk membangun kaumnya, untuk memajukan bangsanya. 

*** 

Muncul persepsi wanita Indonesia bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun, seyogyanya wanita Indonesia tidak salah kaprah dalam mengartikan perjuangan Kartini. Berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. 

Perjuangan wanita tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki untuk kebangkitan ummat manusia yang hakiki, dan masyarakat madani. Karena untuk mewujudkan masyarakat madani, di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama, tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain. 

Indonesia adalah salah satu tempat untuk mewujudkan terjadinya kebangkitan ummat yang hakiki, dengan didasarkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi suatu hal yang penting, muslimah bersama dengan laki-laki muslim bergerak dalam satu gerakan, yang memilik kejelasan pemahaman tentang pemikiran-pemikiran Islam (fikrah) dan metode (thariqah) untuk mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki yaitu kebangkitan Islam untuk diterapkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. 

Selain itu, aktivitas muslimah untuk terlibat mewujudkan kebangkitan yang hakiki jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Disinilah dituntut bagi muslimah, untuk mampu mengatur diri dan melaksanakan konsep aulawiyyat (prioritas) dalam aktivitasnya, sehingga tidak membawa kemudhorotan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. 

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya.” – (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903). 

“Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” - (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).

Berbagai sumber.






Tulisan ini diposting juga di :

18 Apr 2011

Milad PKS ke-13

Saat SubuhSamuraiThe WayTopi CapingTukang Rujak BebekTunda Menikah
Rujak BebekMasjid Al Mi'rajRailBergayaPeuyeumMilad PKS ke-13
MencrangMenara BiruMembludakMasjid Al Mi'rajLorong CahayaLangit Jakarta
Kader PKSKader & Simpatisan PKSIik & DaniHelikopterHand's GoodsHamparan
Milad PKS ke-13, a set on Flickr.
Milad PKS ke-13 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 17 April 2011.



Mars Partai Keadilan Sejahtera
(Izzatul Islam)


Kita berhimpun dalam barisan
Lantangkan suara hati nurani
Agar negeri ini berkeadilan
Indonesia maju bukan hanya mimpi


Partai Keadilan Sejahtera
Maju terus tanpa kenal lelah
Kibarkan tinggi panji Allah
Bangun Indonesia penuh berkah


Kita berhimpun dalam barisan
Lantangkan suara hati nurani
Lahirkan pemimpin yang adil sejati
Yang cinta rakyat dan negeri ini


Partai Keadilan Sejahtera
Maju terus tanpa kenal lelah
Kibarkan tinggi panji Allah
Bangun Indonesia penuh berkah

Allahu Akbar!

1 Apr 2011

Hati Pemenang

Tree-Sky by Mr-Aan
Tree-Sky, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Hidup ini ibarat cermin! Begitulah sebagian orang mempercayainya, tak terkecuali saya pribadi. Bagaimana dengan kamu? :D

Kita sering mendengar bahwa seseorang yang melihat dunia kiranya mereka sebenarnya ialah sedang melihat cerminan dirinya sendiri. Jika dia melihat dunia yang dia pikir penuh dengan ketimpangan, ketidakberesan, maka meskipun mungkin tanpa disadari--pada taraf tertentu--dia merasa kalau dirinya pun penuh dengan ketimpangan.

Jika dia melihat orang-orang bekerja dengan jujur, maka sesungguhnya dia sedang melihat dirinya sendiri. Ya, hidup laksana cermin. Memantulkan gambaran asli benda yang berada dihadapannya. Barangkali kita pernah juga medengar istilah bahwa seorang penipu seringkali menjadi orang pertama yang menuduh orang lain berbuat curang.

***

Hidup ini terlalu singkat untuk menjadi kecil. Setiap orang dari kita mempunyai bagian kena tampik dan kecewa. Bila seseorang mengatakan atau melakukan yang melukai hati kita, ada alasan bagi kita untuk membalasnya. Tapi, bila kita melakukannya (membalasnya) justru merendahkan diri kita ke taraf si penyerang. Seseorang yang memukul kita sesungguhnya mencerminkan rasa kecilnya, ketidakberdayaannya. Bolehlah kita kalah dalam berkelahi, tapi toh kita harus menang dalam perang.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpanya. Orang yang akan melakukan hal-hal besar akan menemukan sementara orang yang suka mengejek, dan berkata kasar. Mereka berusaha melukai hati kita, ingin membuat hati kita terluka.

Janganlah kamu masukkan kata-kata mereka ke dalam hatimu. Jika kita masukkan kata-kata tersebut ke dalam hati, itu berarti kita adalah pohon yang tumbang dengan mudahnya. Hati ibarat akar pada sebuah pohon. Semakin teguh akarnya, semakin kokoh pohonnya.(*)

31 Mar 2011

25-Mar-11 Midnite

25-Mar-11 Midnite by Mr-Aan
25-Mar-11 Midnite, a photo by Mr-Aan on Flickr.
Tadinya mau datang ke pengajiannya ust. Aam ^_^ ... Udah ngebela-belain hujan-hujanan, tapi apa di kata, tak ada yang tahu tempat pasti pengajiannya. Di daerah sekitar Buah Batu, Bandung, kita keliling.. semakin larut, semakin malam.. akhirnya, kita photo-photoan aja deh..

Kalau ini photo pake HP-nya pak De.. di depan kantor RMI, Jalan Martanegara..

Smile aja deh... ^_^v

29 Mar 2011

Cangkir & Kopi

Barangkali memang rencana Allah itu seringkali kita bahasakan sebagai sebuah kebetulan oleh para manusia. Saat kita tahu semua yang terjadi serba berkorelasi, saling terkait antara satu kejadian dengan kejadian lain hingga membuat kita heran dan berujar, "wah, kebetulan sekali!" atau, "Lho, kok bisa, ya?", dan lain sebagainya.

Ungkapan atau kata-kata yang seringkali terucap dalam keseharian kita itu, hingga kita diakhir kejadiannya sadar saat segala sesuatu yang terjadi ternyata begitu menakjubkan dan begitu sempurna kejadiannya. Ya, itulah ketetapan Allah. Allah memberi kita segala hal yang seringkali diluar nalar manusia dan begitu saja tanpa pernah kita tahu benar bagaimana untaian kejadiannya. Bagi manusia yang beruntung, mereka bisa mengambil setiap hikmah dan menjadikan sebuah pembelajaran yang tiada batasnya.

Contoh kecil yang tadi pagi saya alami adalah tentang satu gelas kopi. (Aduh, tidak biasanya pagi-pagi aktifitas kerja saya ditemani satu gelas kopi!) Lantas, terbersit deh sedikit uneg-uneg tentang apa makna dari satu gelas kopi itu.

"Hmmm.. apa ya?", pikiran saya melayang bertanya-tanya.

Lalu, secara "kebetulan" (dalam tanda kutip ya) saya buka-buka email dan melihat inbox email. Disalah satu milist ada artikel yang ...

Aha! Ada artikel yang sudah Allah siapkan sebagai "kebetulan" atas pertanyaan saya tadi itu. Artikel ini saya dapat sudah lama sekali sebenarnya. Tapi tampaknya Allah tahu benar kapan saat yang tepat saya harus membacanya. Well, barangkali bermanfaat bagi kamu yang baca tulisan saya ini, saya tulis ulang artikelnya. Tulisan tentang "Cangkir dan Kopi". Semoga bermanfaat, semoga ada hikmahnya... ^_^
***

Cangkir & Kopi

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni Univesitas Barkeley-California menjumpai dosen kampus mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, profesor tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda.

Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik. Profesor tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir & mengisinya dengan kopi.

Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, profesor tersebut berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir-cangkir yang murah dan tidak menarik".

"Memilih hal yang terbaik adalah wajar & manusiawi, namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir. Otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain & mulai membandingkan cangkir kalian. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya".

Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki. Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. CANGKIR bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yg terpenting.

Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus & pekerjaan yg mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yg ada di dalam"  bukan "Apa yg kelihatan dari luar". Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tdk pernah merasakn damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.

"Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya."(*)