18 Jun 2013

Gelora Jiwa


Gelora Jiwa
Terinspirasi dari tulisannya Bpk. Hermawan Sah.

Pernah nonton serial film The Return of the Condor Heroes? Kamu yang seumuran atau lebih tua dari saya pasti tahu. Salah satu film yang sukses merebut hati saya kala itu. Film tersebut diartikan kedalam bahasa Indonesia dalam judul Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali.

Film tersebut diangkat dari sebuah novel silat karya Jin Yong, merupakan bagian kedua dari Trilogi Rajawali. Di Indonesia kisah ini juga dikenal dengan judul Sin Tiauw Hiap Lu (dialek Hokkian). Cerita silat ini lebih populer dengan judul di atas karena diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul The Return of the Condor Heroes, terjemahan harfiah dari versi asli sebenarnya lebih tepat berjudul Pasangan Pendekar Rajawali Sakti.

Novel ini pertama kali diterbitkan 20 Mei 1959 pada harian Ming Pao selama 3 tahun. Novel ini adalah bagian ke dua dari Trilogi Rajawali. Tokoh utama dalam novel ini adalah Yang Guo (Yo Ko) putra Yang Kang dan kekasihnya Xiaolongn├╝.

Yo ko adalah pendekar sakti yang ayahnya mempunyai reputasi buruk di dunia persilatan. Setelah ayahnya meninggal ia tinggal bersama pamannya, seorang pendekar “Pemanah Rajawali”. Karena reputasi ayahnya yang buruk Yo Ko mendapat perlakuan buruk di dunia persilatan. Akhirnya Yo Ko terdampar di sebuah gua, yang dihuni seorang pendekar cantik, yang kelak menjadi gurunya, sekaligus menjadi kekasihnya.

Namun sayang hubungan percintaan Yo Ko ini juga terhalang oleh Hakim Roda Emas. Hakim Roda Mas dalam cerita terlahir di Mongol sebagai biksu yang teramat sakti. Dengan idealisme yang kuat menjadikannya dia disegani di dunia persilatan kala itu. Dia dihormati sekali di kalangan pejabat Kerajaan Mongol, bahkan Raja Mongol saja waktu itu tak berani seenaknya memerintah Hakim Roda Mas.

Singkat cerita, kemudian Yo Ko harus terpisah dengan kekasihnya yang terperosok ke jurang yang sangat dalam. Yo Ko benar-benar merasa kehilangan, sedih, marah dan rindu bercampur aduk. Dalam masa-masa kesendirian itulah Yo Ko menciptakan Jurus Sakti, sebuah pukulan luar biasa yang tiada tandingannya.

Seorang sahabatnya, Bocah Tua Nakal, yang sakti, lucu, dan “cengengesan” punya kebiasaan suka minta diajari bila tahu temannya punya jurus sakti. Maka Yo Ko pun mengajarinya. Namun setelah sekian lama berlatih pendekar nyentrik ini tidak mampu menguasai pukulan sedahsyat pukulan Yo Ko, walau semua teknik telah diberikan.

“Mengapa aku tidak bisa menguasai jurus ini sehebat kamu,” kata Bocah Tua yang nyentrik itu.

Yo Ko menjawab, ”Bocah Tua, kau selalu nampak ceria, kau tidak mengalami kesedihan dan kerinduan seperti yang saya alami. Kehebatan jurus dan pukulan itu berasal dari gelora hati yang dirundung kesedihan dan kerinduan yang dalam.”
***

Mari kita renungi, mengapa kita mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda? Diantaranya adalah karena kita mempunyai “gelora jiwa” yang berbeda-beda. Ada seorang yang sukses besar karena ada “gelora besar” di dalam jiwanya untuk membahagiakan kekasihnya yang tercinta. Sehingga ia siap melakukan apapun untuk sukses demi kebahagiaan kekasihnya.

Ada pula yang membulatkan tekad untuk meraih sukses dan akhirnya benar-benar menjadi sukses karena mengalami kejatuhan dan hinaan, sehingga tumbuh semangat untuk “mengangkat” kembali harga dirinya.

Kartini mempunyai gelora besar dalam jiwanya untuk emansipasi wanita. Ki Hajar Dewantara mempunyai gelora besar dalam jiwanya untuk membangkitkan harkat dan martabat bangsa melalui pendidikan. Cermati pula sosok Pahlawan Nasional seperti Jendral Soedirman yang dengan bergeloranya membela tanah air.

Mengapa kita tidak bisa sepenuhnya “me-model” kesuksesan orang lain? Karena “gelora jiwa” kita memang berbeda-beda. Setiap orang mempunyai kesuksesan dan kisah sendiri-sendiri, karena setiap orang mempunyai gelora jiwa sendiri-sendiri.

11 komentar:

  1. Wah2 film Yoko ya Mas, kalau di daerah Surabaya ada tv lokal namanya BBSTV masih menyiarkan film itu sampai saat ini sekitar jam 9-10 malam..
    Jadi masih bisa lihat aksi Andy Law hehehe..
    Memang gelora jiwa itu sulit untuk dicari, bagi orang yg punya tekad kuat pastilah mampu memunculkannya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha. Asyik dong, duh... Itu Bibi Lung masih muda ga ya? :D

      Hapus
  2. Mari kita menjaga gelora jiwa agar bisa sukses lahir batin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap Bunda Lahfy.. Makasih ya. :-bd

      Hapus
  3. bukan hanya yang lebih tua dari akang yang tahu dan pernah nonton. Pita juga nonton kok. Malah pernah menghafal soundtracknya. Masa-masa SD memang.

    Dan untuk 'gelora jiwa'. Setuju kalau setiap orang memilikinya dengan berbeda. dan kesuksesan itu, saya rasa tidak dapat dibanding-bandingkan

    #edisiSokTahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kita seumuran kan, ya? Hehe.. :D

      Hapus
  4. film lama mas. tapi emang bener, setiap usaha ada tantangannya. jadi inget alexander grahambel, dari seratus percobaan, akhirnya mampu membuat getaran suara terkirim lewat serat telepon seperti sekrang. yang penting sekarang mesti semangat dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mas Rusydi, :-bd
      Terima kasih kunjungannya.

      Hapus
  5. Saya gak tau tuh film apa ya?? Belum lahir pak soalnya (bo'ong dikit biar berasa muda) :D ,. Tapi memang kuirang suka sama Yo ko, lebih mengikuti yang setelahnya Thio Buki kalau gak salah.

    Gelora jiwa saya adalah diri saya sendiri yang ingin menunjukan bahwa saya bisa, mengalahkan ketakutan saya pada hal-hal tertentu dan yang terlebih utama adalah mengikis rasa tidak PD yang sedari kecil sudah tertanam rapih dalam memory. Maka itu saya ingin menggelorakan jiwa saya untu semangat menaklukan 'saya yang dulu' menuju brand new me

    BalasHapus
  6. gelora jiwa saya sekarang lagi membara mas,,,

    BalasHapus

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Terima kasih.