17 Agt 2011

Merdeka Dan Bebas, Mungkinkah?

“Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada penindas, mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.” – Nelson Mandela

Coba baca sekali lagi apa yang diucapkan oleh Nelson Mandela diatas. Kalau perlu rasakan saat membacanya hingga terhujam ke hulu hati. Hanya orang-orang hebat yang mengerti makna-makna yang hebat. Itu pemahaman kemerdekaan yang luar biasa dan mulia yang sangat perlu direnungkan oleh seluruh bangsa Indonesia sekarang yang – mungkin – hatinya penuh benci dengki, marah dan berangasan!

Ya, tidak perlu memuji kalimat itu setinggi langit memang. Kata-kata mutiara bisa dibuat seratus biji dalam beberapa menit saja (mungkin?), tetapi bukan itu yang kita perlukan. Kita memerlukan tindakan, Indonesia di usia 66 sudah inflasi kata-kata mutiara.

“Apa sejatinya makna kemerdekaan,”
“Apa?”
“Bebas.”
“Memang dari dulu begitu kan? Masak baru tahu?”
“Dan apa sejatinya makna kebebasan!”
“Apa?”
“Melupakan!”

Ya! Kelihatannya tidak mungkin, bahkan sepele. Tetapi nyatanya Nelson Mandela sudah membuktikan itu. Tak mungkin orang besar dari Afrika Selatan itu, mampu bertahan disekap puluhan tahun di penjara, padahal usianya sudah uzur, sehingga ketika dibebaskan, dia masih sehat jasmani dan rohani sehingga mampu memimpin sebagai presiden pertama Afrika Selatan!

“Kalau kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada penindas, mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.”

Orang besar memang selalu memiliki pikiran yang juga harus besar. Tapi tidak mesti orang besar saja. Bisa kita balik. Milikilah pikiran yang besar, orang kecil pun akan menjadi orang besar. Mudahkah? Yang jelas butuh proses dan kesabaran.

“Mungkinkah orang kecil memiliki pikiran besar dan jadi orang besar?”
“Nah, kalo itu mah 100% sangat mungkin.”

Berusahalah, gapai kebebasan dan raih kemerdekaan. Tapi jangan sampai kebablasan juga. Pandulah dengan ilmu dan adab. Hidup ini adalah tentang pilihan, dan apa saja yang dipilih menunjukan tentang diri si pemilih.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushshilat:46).

Catatan: Tulisan sederhana ini adalah potongan cerpen yang berjudul “MERDEKA” karya Putu Wijaya di rubrik kolom Majalah arti Oktober 2010 dengan sedikit tambahan dan gubahan tulisan dari saya. Tulisan ini pula tidak bisa dikatakan mewakili pemahaman saya tentang makna Kemerdekaan dan Kebebasan. Maklum, masih harus banyak belajar... 


Cimahi, 17 Agustus 2011 – 17 Ramadhan 1432 H
Aan Sopiyan

9 komentar:

  1. ya betul... bangsa kita mungkin tak kan pernah bisa sepenuhnya merdeka jika kita terus memelihara kebencian seperti yang dikatakan Mandela, rasa benci, akan senantiasa melahirkan dendam, jika para pemimpin tak pernah bisa melupakan itu, maka kita (rakyatnya) takkan pernah bisa menikmati kemerdekaan. spirit bulan Ramadhan adalah membebaskan diri dari penyakit-penyakit ruhani. Spirit kemerdekaan.

    ah terlalu serius ya kang aan..^_^

    postingannya keren, mencerahkan..:)

    BalasHapus
  2. cakeeeeeeeeppp...ahh speechless saya...
    apapun itu,,,pasti saya cinta Indonesia..dan bersyukur telah terlahir dalam sebuah kemerdekaan beragama di sana...hahahaha....

    Happy milad Indonesia....^__^

    BalasHapus
  3. yo... salam merdeka!!!

    *jarang sambang...

    BalasHapus
  4. Indonesia merdeka tapi nyatanya tak merdeka...

    tapi aku ucapkan 'selamat ulangtahun Indonesiaku' .. setidaknya aku bangga dengan negaraku :)

    BalasHapus
  5. seklipun gubahan, makna dan hikmahnya tidak berkurang sedikitpun. hm, sepertinya justru smakin kuat.

    hm, lama tak brkunjung di maree.

    BalasHapus
  6. Jika manusia dibiarkan bebas sebebas-bebasnya, bahaya .. entah apa jadinya dunia ini dibiarkan tanpa adanya aturan.

    Nuansa ungu-nya lembut .. pasti lagi kasmaran nih .. betul 'kan kang Aan ?

    BalasHapus
  7. postingan yang bagus tentang merdeka dan bebas munkinkah

    BalasHapus
  8. Bukan saja tentang negara saya kira. Bahkan, bagian terkecil pun, seperti diri kita sendiri, hal itu harus diterapkan. Untuk apa terjebak dalam rasa benci, amarah, iri, dan penyakit-penyakit hati lainnya? Kemampuan akal kan menjadi tumpul karenanya..

    #saya pun, yang masih terus belajar..

    BalasHapus

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Terima kasih.