7 Sep 2012

Bahagia dan Sedih

“Biarlah mereka tersenyum bahagia ketika kita menangis di waktu kelahiran kita.”

Ceria itu perasaan bahagia. Bahagia itu ceria. Intinya itu sih. Hehe.. Ada perasaan yang terluapkan dalam ekspresi kita dengan kesenangan yang tak terbahasakan. Entah dari mimik wajah, gerakan tubuh, gaya bicara, atau pun dari cara makan kita dan lain sebagainya. Segala sesuatu terasa lebih mudah dan ringan untuk dijalani. Tapi ada juga sih yang bahagia meski ia sedang menghadapi masalah yang terasa berat. Dan yang soal seperti itu jangan tanya saya seperti apa orang yang bahagia meski kita lihat sebenarnya ia menderita.

Normalnya, kita hidup ingin selalu diisi dengan keceriaan dan kebahagiaan. Perayaan hari kelahiran, pernikahan, lulus ujian, diterima bekerja di perusahaan idaman kita, jalan-jalan ke suatu tempat yang indah, dan lain sebagainya umumnya bisa buat kita bahagia, senang dan ceria. Meski demikian tak selamanya hidup kita selalu ceria.

Iya, hidup memang diciptakan berdampingan. Kadang kita begitu sangat ceria, juga kadang ada rasa sedih, meski tanpa diminta, ia datang juga. Toh, terlalu sering ceria juga kan gak enak rasanya. Dan ya, sekali lagi, kita selalu sepakat bahwa segala hal yang serba terlalu memang tidak baik.

Kata orang tua dulu, saat kita terlalu senang atau ceria biasanya itu tandanya sesaat lagi akan datang kesedihan. Bisa jadi benar. Bagaimana pun yang namanya kebijaksanaan orang tua tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Saya punya teman yang beberapa bulan lalu begitu bahagia karena mendapatkan “bonus” atas kinerjanya di kantor. Tidak hanya dia, tapi teman-teman sekantornya, tanpa terkecuali saya, pun turut ikut berbahagia melihat bagaimana betapa ekspresi keceriaannya terlihat. Semua bersyukur. Semua merasakan kebahagiaannya. Semua ceria!

Sayangnya, itu semua tidak berlangsung lama. Teman kami yang berbahagia itu justru diuji dengan penyakit yang cukup membuatnya habis-habisan mengeluarkan biaya untuk berobat. Rona wajah keceriaannya redup. Meski dengan kuat hati dia mencoba untuk tetap tegar dan berusaha berbahagia.

Lain cerita dengan teman saya yang lainnya. Baru saja ia mendapatkan seorang anak. Istrinya baru saja melahirkan putri pertama baginya. Sempat ia bercerita bagaimana ketegangannya dalam menemani istrinya disaat melahirkan. Rasa takut, was-was, (mungkin) juga sedih melihat istrinya berjuang menimpa perasaan teman saya itu. Setelah melalui itu semua, dengan lahirnya anaknya itu lahir pula lah kebahagiaan, keceriaan padanya. Alhamdulillah…

Maknanya, hal yang buat kita sedih bahkan menyakitkan itu harus kita hadapi, karena itu adalah hal yang wajar dalam hidup. Asalkan kita memang mempersiapkan diri untuk itu. Kita harus memahami bahwa hidup tak hanya soal bahagia, tapi ada juga sedihnya.


“Mempersiapkan diri untuk bahagia dan mempersiapkan untuk merasa sedih. Karena keduanya bisa 'melalaikan' jika tak di-manage dengan baik. Soalnya, apa yang akan terjadi dalam hidup, gak bisa ditebak. Skenario-Nya adalah rahasia terbesar yang hanya akan terbaca setelah terjadi”, begitu kata tante Ria (@arianti_ria).

Jadi ya, sama seperti nasihat orang tua tadi, pesan saya sih kita seharusnya selalu bersiap-siap. Saat bahagia, jangan terlalu bahagia. Saat sedih, jangan terlalu sedih. Karena kita gak tahu, setelah itu, apa yang terjadi?

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu, pasti ada kemudahan” – (QS. Al-Insyiroh: 5). Jadi, bahagia dan sedih itu memang beriringan.

22 komentar:

  1. hmm... *nyimak

    bahagia itu memang sederhana ya an, kayak sy yg bahagia baca postinganmu ini #eeaaa :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. deuh... yg lg bahagia. segitunya... -__-" #apacoba

      Hapus
  2. Kemudahan ada bersama kesedihan, tapi keduanya jarang dipertemukan :)

    BalasHapus
  3. Sukaaa...
    Yup. Setuju bangeet..bahagia dan sedih itu cuma berbatas sekat tipis. Keduannya beriringan dan tak mampu dipaksakan kehadirannya..
    Ada yg menggelitik...ecieee...tumben mas aan bawa2 nama mb ria dengan penuh perdamaian...hahahahaha....:P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Damai dgn rasa yg "aneh". Ah, entahlah... haha #Apasih

      Hapus
  4. hu'um stuju bgd bahagia dna sedih beriringan.

    betapa beruntungnya bisa mengukur dgn pasti, tipis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Annur eL Karimah_ Terima kasih ya kunjungannya... ^__^

      Hapus
  5. Balasan
    1. @sioranges_ makasih, makasih... semoga jd manfaat ^^

      Hapus
  6. @Tante Ria dan Coretannya _ Emang biasanya dipanggil apa?? #Seus gtu? ;p

    BalasHapus
  7. `menunggu kabar bahagia... :)

    BalasHapus
  8. @dAnonim™_ Tunggu tanggal mainnya.. hehe #ApaCoba?

    BalasHapus
  9. Sifat qana'ah yang harus kita tanamkan dalam hidup kita. Sehingga bisa merasakan bahagia dan sedih pada tempatnya.
    Sabar itu pada pukulan pertaman.

    BalasHapus
  10. @Niken Kusumowardhani_ iya mba, qonaah barangkali adalah kuncinya.

    BalasHapus
  11. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus
  12. jadi kalo mau ketemu dengan keceriaan, carilah kesulitan ^^

    BalasHapus
  13. bener jg ya kang... dua-duanya harus dinikmati

    BalasHapus
  14. postingan anti galau beneran :). hehhehehe:D

    BalasHapus
  15. @BLACKBOX_ Siap, makasih kunjungannya ^^b

    BalasHapus
  16. @suN soerya_ Syukur deh, galau sih sebenernya boleh aja, asal jangan kelamaan.. rugi! ^^b

    BalasHapus

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Terima kasih.