25 Sep 2013

Dua Remaja Cantik Hatinya

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tidak berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yang menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu-lagu, boyband, film-film, dsb. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yang baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid-muridnya untuk membuat karangan tentang berqurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh-sungguh dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pada orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berqurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yang masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yang keluar, kurang lebih sama, jadi mana kepikiran untuk berqurban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yang baik, bahkan lebih matang dibanding orang-orang dewasa.

Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu. Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 untuk jajan dan keperluan lain.

Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga untuk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya qurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel-novel baru, jatah bulanan untuk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar-besaran jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude.

Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya qurban, mereka punya uang 1,1 juta. Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya-nanya, harga kambing di tempat penjualan-penjualan kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yang mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain.

Tapi kakaknya, Ais, yang tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya untuk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh-boleh saja nyari harga kambing yang lebih murah sepanjang memenuhi syarat qurban.

Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan qurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal qurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan qurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya—kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berqurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa-sisa untuk berqurban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan. Itulah qurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yang terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yang masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar-besar: ‘Kaleng Qurban’ keluarga mereka.

**Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan untuk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tidak punya uang untuk berqurban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berqurban. Beli pulsa itu setelah menabung untuk qurban, bukan sebaliknya berqurban datang dari sisa2 beli pulsa.

Maka buat yang tidak mampu uangnya, ayo mari menabung sejak sekarang, sisihkan. Buat yang tidak mampu niatnya—padahal uangnya banyak, ayo mari ditabung juga niatnya, dicicil, semoga saat tiba hari raya qurban, niatnya sudah utuh.



Journal of Ghazi: Jangan pernah bilang (dont even dare to think) kalau kamu gak mampu buat qurban. Atau berqurban cukup sekali seumur hidup. Okelah sekali atas nama sendiri. Besok-besok terus qurban lagi atas nama orang lain. Atas nama orangtua misalnya, atau qurban buat yang benar-benar gak mampu.

Buat berqurban juga mudah kok. Bisa melalui masjid-masjid terdekat atau bisa lewat Badan atau Lembaga Amil Zakat khusus yang menangani qurban juga bisa. Jadi gak ada alasan ribet lah.


Malu lah kalo udah punya penghasilan tapi tiap tahun cuma bisa nadah jatah bon qurban dari RT (protes lagi kalo cuma dapet dikit ckck). Malu lah buat qurban yang sekali setahun aja bilang gak mampu tapi di tahun yang sama udah ganti-ganti gadget.

Sekitar 20 hari lagi kita sambut Idul Adha. Buat teman-teman, sodara, sahabat yang belum / akan / sudah berpenghasilan, yuk qurban yuk, masih ada waktu.

Would you join?

8 komentar:

  1. ceritanya menendang hati,,,,,
    20 hari lagi yah,,
    semoga tabungan bisa..
    :D
    #yakin

    BalasHapus
  2. Merinding bacanya Kang.... Terimakasih Putri dan Ais, sudah mengingatkan saya tentang pentingnya berqurban :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu cerita qurban dari 'Mae. :D

      Hapus
  3. dia tidak beda dengan jutaan remaja lainnya. meski tidak berlebihan, namun tetap mengikuti budaya populer saat ini.

    BalasHapus
  4. Your writing is really good .... I love your writing ... look at my writing. how do you ...

    kawan senyum - Jalan2 | berkunjung | silaturahmi.

    BalasHapus

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Terima kasih.